JATIM
Wartawan Senior Tulungagung Adakan Silaturahmi Dan Diskusi

TULUNGAGUNG, BERITA PATROLI- Forum Diskusi Pers Tulungagung menggelar silaturahmi dan Halalbihalal Idul Fitri 1444 Hijriah demi meningkatkan rasa kekeluargaan.
Koordinator acara Catur Santoso mengatakan tradisi halalbihalal merupakan peringatan Idul Fitri yang khas Indonesia. Catur menyebut semangat persatuan dan persaudaraan sangat tampak dan terasa di dalam pertemuan wartawan senior dari berbagai media tersebut
“Saling maaf memaafkan, saling bersilaturahim dan membangun semangat persaudaraan.” kata Catur , Sabtu (13/5/2023).
Ditambahkannya , acara ini kedepan bisa membuka ruang diskusi antara masyarakat pemangku kebijakan dengan pers.
“Salah satu elemen dari sembilan elemen jurnalisme adalah menyediakan forum publik untuk kritik dan mendorong dukungan warga. Forum ini adalah penerjemahan dari elemen ini.” Jelas nya.
FDPT ini bisa menjadi ruang edukasi, koreksi dan juga kritik tentunya satu sama lain, Pers dan Pejabat Publik.
“Wartawan tidak selamanya benar. Mari koreksi. Pun, pejabat sebagai pemangku kekuasaan juga tidak semuanya benar dan pers berhak mengontrolnya. Forum diskusi Pers Tulungagung ini jadi ruang dialog untuk hal itu. Untuk menyusun kebijakan publik ke depan,” urainya.
Sementara itu Oky mantan wartawan RCTI menjelaskan, Pers adalah institusi sosial. Ia merupakan subsistem ke masyarakat tempat ia berada dengan subsistem lainnya.
“Jadi Pers tidak hidup secara mandiri melainkan dipengaruhi oleh lembaga kemasyarakat lainnya,” tutur dia.
Oky juga berbagi saran bahwa ketika pers dihadapkan pada pilihan untuk menentukan peristiwa-peristiwa yang tepat untuk dijadikan berita, kewajiban mereka tidak hanya untuk menyajikan fakta, namun juga kebenaran dan dampak dari berita tersebut.
“Di sinilah pentingnya sensor pribadi dan tanggung jawab sosial dari jurnalis untuk mengukur dan menilai arti dari sebuah laporan,” imbuhnya.
Ditempat yang sama Arif Gringsing menuturkan sejak pemerintah mengundangkan UU Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers, secara normatif, pers Indonesia telah menganut teori pers tanggungjawab social (kebebasan pers yang bertanggungjawab pada masyarakat/kepentingan umum).
“Jadi pemberitaan pada hakikatnya tidak bisa lepas dari faktor individu atau si pembuat berita yang mempunyai subjektivitas sendiri dalam membuat sebuah berita. Self censorhip merupakan bentuk proses seleksi atau sensor diri secara intelektual dalam diri wartawan ketika dia dihadapkan pada pilihan untuk semua pihak,” tegasnya.(hka)














