Berita Nasional
Kolonel Budi Iryanto, TNI AL yang Meninggal Usai Temukan Kokain Rp1,25 Triliun
Jakarta, Berita Patroli – Simak profil dari anggota militer tanah air Kolonel Budi Iryanto, yang meninggal usai menemukan Kokain bernilai Rp1,25 triliun.
Budi Iryanto wafat pada 20 Agustus 2022 lalu di Rumah Sakit Pusat Angkatan Laut (RSPAL) Ramelan, Surabaya, Jawa Timur.
Baru-baru ini viral isu Kolonel Budi Iryanto yang meninggal usai temukan kokain senilai Rp1,25 triliun di Selat Sunda dengan berat 179 kg.
Warganet ramai memperbincangkan kabar Budi Iryanto yang malah keluar dari jabatannya sebagai Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut (Danlanal) Banten Kolonel Laut (P), setelah menemukan Kokain senilai Rp1.25 triliun itu.
Kolonel Budi Iryanto justru menyerahkan jabatannya usai temuannya tersebut. Hal tersebut tentu saja memunculkan asumsi negatif dari publik.
Banyak di antaranya yang mengira Kolonel Budi Iryanto menyerahkan jabatannya berkaitan dengan penemuan kokain.
Namun, pihak TNI AL membantah rumor yang beredar dan menegaskan penyebab kematian Kolonel Budi Iryanto murni karena sakit, dan tak terkait dengan penggagalan penyelundupan kokain.
Lantas seperti apa sosok Kolonel Budi Iryanto yang berhasil temukan Kokain senilai Rp1,25 triliun itu?
Berikut profil singkat Kolonel Budi Iryanto, dikutip insiden24.com dari PikiranRakyat.com.
Kolonel Budi Iryanto merupakan kelahiran Manokwari, dan pertama kali terjun ke dunia militer pada tahun 1995. Dia mengenyam pendidikan dasar di Magelang sebagai taruna Akabri.
Berkat prestasi gemilangnya, Budi Iryanto lulus tahun 1998 dan mendapat kesempatan untuk lanjut ke pendidikan kelautan.
Setelah lulus, Budi Iryanto ditugaskan dari Surabaya ke Papua di Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) armada wilayah timur.
Melewati lika-liku perjalanan karier selama 22 tahun, Budi Iryanto kemudian mendapat amanat memimpin wilayah armada barat, Jakarta-Sumatera.
Kolonel Budi Iryanto kini dikenal setelah prestasinya dalam penemuan kokain senilai Rp1,25 triliun dengan berat 179 kg.
Tanggal 8 Mei 2022 lalu, Kolonel Budi Iryanto tak sengaja melihat empat plastik yang dipasang pemberat mengapung di dekat Pelabuhan Merak.(red)















